MAKALAH KEDUDUKAN SUMPAH DALAM ISLAM



KATA  PENGANTAR
                                                                                                                   
          Dengan  memanjatkan Puji  syukur kehadirat  Allah  SWT. Atas  segala  limpahan   rahmat  dan  karunianya  sehingga  kami  masih  diberi  kesempatan  untuk  menyelesaikan  makalah  ini  yang  berjudul: ”SAKSI,SUMPAH DAN NAZAR DALAM ISLAM”  penulis  menyadari  bahwa  didalam  pembuatan  makalah  ini  berkat  bantuan  dan  tuntunan  Tuhan  Yang  Maha  esa  dan  tidak  lepas  dari  bantuan  berbagai  pihak  unntuk  itu  dalam  kesempatan  ini  penulis  menghaturkan  rasa  hormat  dan  terima  kasih  yang  sebesar-besarnya  kepada  semua  pihak  yang  membantu  dalam  pembuatan  makalah  ini.
       Penulis  menyadari  bahwa   dalam  proses  penulisan  makalah  ini  masih  jauh  dari  kesempurnaan  baik  materi  maupun  cara  penulisannya.Namun  demikian , penulis  telah  berupaya  dengan  segala  kemampuan  dan  pengetahuan  yang  dimiliki  sehingga  dapat  selesai  dengan  baik  dan  oleh karenanya, Penulis  dengan  rendah  hati  dan  tangan  terbuka  menerima  masukan, saran  dan  usul  guna  penyempurnaan  makalah  ini.
       Akhirnya  penulis   berharap  semoga  makalah  ini  dapat  bermanfaat  bagi  seluruh  pembaca.    


















BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Orang yang mendakwah hendaklah mengajukan saksi.Maka jika yang mendakwah mempunyai saksi yang cukup,dakwaannya hendaklah diterima oleh hakim;betarti dia menang dalam perkaranya.Tetapi jika ia tidak dapat mengemukakan saksi, hakim hendaklah menberikan hak bersumpah kepada terdakwa;dan kalau ia sanggup bersumpah,dia mendapat kemenangan.
            Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun (Q.S. Al-Baqarah: 225).
      Nazar artinya janji untuk berbuat baik.Menurut  istilah syariat berarti kemestian atau kewajiban berbuat suatu kebaiakan,yang disebabkan oleh perkataan yang dikeluarkan.Umpamanya,hak bagi Allah dan jadi utang diatas diriku shalat dua rakaat,atau berpuasa tiga hari,jikan penyakitku telah sembuh dan sebagainya.
B.      Rumus Masalah
Adapun permasalahan yang uraikan dalam makalah ini antara lain:
1.    Saksi dalam Ajaran Islam
2.    Sumpah dalam Ajaran Islam
3.    Nazar dalam Ajaran Islam

C.   Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini antara lain :
a.    Memperluas wawasan tentang saksi,sumpah dan nazar dalam ajaran islam.
b.    Agar kita semua bias menjalankan dengan sesuaai ajaran islam.
c.    Agar bisa memberikan masukan yang baik dalam kehidupan.








BAB II
PEMBAHASAN
SAKSI,SUMPAH DAN NAZAR DALAM ISLAM
A.   Saksi dalam Islam
Syahadat atinya mempersaksikan dan memperlihatkan atau menyatakan.Menurut istilah syara’ ialah menyatakan kebenaran orang lain,dengan lafas tertentu.
Orang yang mendakwah hendaklah mengajukan saksi.Maka jika yang mendakwah mempunyai saksi yang cukup,dakwaannya hendaklah diterima oleh hakim;betarti dia menang dalam perkaranya.Tetapi jika ia tidak dapat mengemukakan saksi, hakim hendaklah menberikan hak bersumpah kepada terdakwa;dan kalau ia sanggup bersumpah,dia mendapat kemenangan.Tetapi jika yang terdakwa tidak sanggup bersumpah,yang mendakwa berhak bbersumpah;apa bila ia bersumpah,ia dianggap menang.Sumpah yang mendakwa ini dalam istilah ahli fiqih dinamakan “Sumpah Mardud”(sumpah yang dikembalikan).
Firman Allah Swt.
            “Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian.Dan barang siapa yang menyembunyikannyaa, maka sesungguhnya, ia adalah orang yang berdosa hatinya.”(Al-Baqarah:283).
Sabda Rasulullah Saw :
“Kalau manusia diberi dengan semata-mata dakwa mereka, sudah tentu manusia mendakwa jiwa beberapa laki-laki dan harta mereka,  Tetapi kewajiban yang medakwa adalah mengemukakan saksi, dan kewajinan terdakwa adalah bersumpah.”(Riwayat Bukhri dan Muslim).
Sedangkan masalah saksi, kesaksian dilaksanakan oleh dua orang laki-laki atau satu laki-laki dan dua orang perempuan, dalam hal kontrak keuangan, tersebut dalam al-Qur’an:
…وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنْ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى… 
“…Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang laki-laki di antara kalian. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kalian ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya…. (Al-Baqarah/2:282) 

            HALAMAN SELANJUTNYA   HAL..1,    HAL...2,    HAL..3

loading...


EmoticonEmoticon