Makalah Budaya Kedisiplinan di Sekolah

BAB I
PENDAHULUAN


A.                Latar Belakang Masalah

Disiplin di sekolah merupakan hal yang penting dalam menunjang keberhasilan tata tertib yang diterapkan di sekolah, yang di dalamnya tergabung guru dan siswa taat kepada tata tertib yang telah diterapkan. Disiplin yang diterapkan bertujuan untuk meningkatkan kualitas belajar anak dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) agar lebih baik dalam perkembangan anak didik. Adapun tujuannya adalah untuk perkembangan pengendalian diri sendiri yaitu dalam hal mana anak-anak dapat mengarahkan diri sendiri tanpa pengaruh dan pengendalian dari luar. Karena itu orang tua haruslah secara aktif dan terus menerus berusaha, untuk memainkan peranan yang makin kecil dari pekerjaan pendisiplinan itu, dengan cara bertahap mengembangkan pengendalian dan pengarahan diri sendiri itu pada anak-anak.
Di sekolah guru adalah orang tua kedua sebagai panutan anak anak didiknya. Oleh sebab itu disiplin bagi seorang guru merupakan bagian penting dari tugas-tugas kependidikan dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Tugas guru bukan saja melatih sikap disiplin pada anak didiknya, tetapi mendisiplinkan diri sendiri dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya.


B.           Rumusan Masalah
Dalam penyusunan tugas akhir ini penulis menemui permasalahan pokok yang diungkapkan yaitu “:
A. Apa Pengertian Disiplin ?
B. Sebutkan  Macam-Macam Disiplin !
C. Apa Fungsi Disiplin ?
D. Bagaiamana Upaya Penegakan  Disiplin ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Disiplin
Dalam bahasa latinnya tertulis discipline yang menunjuk kepada kegiatan belajar dan mengajar yang berarti mengikuti orang untuk belajar di bawah pengawasan seorang pemimpin. Dalam kegiatan bawahan dilatih untuk patuh dan taat pada peraturan-peraturan yang di buat oleh pemimpin.
Menurut MacMillan Dictionary, (dalam Tulus Tu,u, 2004:30-31) bahwa disiplin adalah tertib, taat atau mengendalikan tingkah laku, penguasaan diri, kendali diri, latihan membentuk, meluruskan atau menyempurnakan sesuatu sebagai kemampuan mental atau karakter moral. Hukuman yang di berikan untuk melatih atau memperbaiki kumpulan sistem peraturan bagi tingkah laku.
Bohar Soeharto (Tulus Tu,u 2004:32) menyebutkan tiga hal mengenai disiplin yakni disiplin sebagai latihan, disiplin sebagai hukuman dan disiplin sebagai alat pendidikan
1.      Disiplin sebagai latihan untuk menuruti kemauan seseorang jika dikatakan “melatih untuk menurut” berarti jika seseorang memberi perintah, orang lain akan menuruti perintah itu.
2.      Disiplin sebagai hukuman. Bila seseorang berbuat salah, harus di hukum. Hukuman itu sebagai upaya mengeluarkan yang jelek dari dalam diri orang itu sehingga menjadi baik.
3.      Disiplin sebagai alat untuk mendidik.
Seorang anak memiliki potensi untuk berkembang melalui interaksi dengan lingkungan untuk mencapai tujuan realisasi dirinya. Dalam interaksi tersebut anak belajar tentang nilai-nilai sesuatu. Proses balajar dengan lingkungan yang di dalamnya terdapat nilai-nilai tertentu telah membawa pengaruh dan perubahan perilakunya. Perilaku ini berubah tertuju pada arah yang sudah ditentukan oleh nilai-nilai yang di pelajari. Jadi fungsi belajar adalah mempengaruhi dan mengubah perilaku seorang anak, semua perilaku merupakan hasil sebuah proses belajar. Dalam pemahaman ketiga disiplin dikembangkan Bohar Soeharto, (dalam Tulus Tu,u, 2004:33).
Menurut Maman Rachman (dalam Tulus Tu,u, 2004:35-36), pentingnya disiplin bagi para siswa sebagai berikut :
1.      Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang.
2.      Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
3.      Cara menyelesaikan tuntutan yang ingin ditunjukkan peserta didik terhadap lingkungannya.
4.      Untuk mengatur keseimbangan keinginan individu satu dengan lainnya.
5.      Menjauhi siswa melakukan hal-hal yang dilarang sekolah.
6.      Mendorong siswa melakukan hal-hal yang baik dan benar.
7.      Peserta didik belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, positif dan bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya.
8.      Kebiasaan baik itu menyebabkan ketenangan jiwanya dan lingkungannya.
Lingkungan sekolah yang teratur, tertib, tenang tersebut memberi gambaran lingkungan siswa yang giat, gigih, serius, penuh perhatian, sungguh-sungguh dan kompetitif dalam kegiatan pembelajarannya. Lingkungan disiplin seperti itu ikut memberi andil lahirnya siswa-siswa yang berprestasi dengan kepribadian unggul.

B. Macam-Macam Disiplin
a.       Disiplin Otoritarian
Disiplin otoritarian selalu berarti pengendalian tingkah laku berdasarkan tekanan, dorongan, pemaksaan dari luar diri seseorang. Hukuman dan ancaman kerap kali dipakai untuk memaksa, menekan, mendorong seseorang mematuhi dan mentaati peraturan. Orang hanya berfikir kalau harus dan wajib mematuhi dan mentaati peraturan yang berlaku. Kepatuhan dan ketaatan dianggap baik dan perlu bagi diri, institusi atau keluarga. Apabila disiplin dilanggar, wibawa dan otoritas institusi atau keluarga menjadi terganggu. Karena itu setiap pelanggaran perlu diberi sanksi ada sesuatu yang harus di tanggung sebagai akibat pelanggarannya.
b.      Disiplin Permisif
Dalam disiplin ini seseorang dibiarkan bertindak menurut keinginannya kemudian dibebaskan untuk mengambil keputusan sendiri dan bertindak sesuai dengan keputusan yang diambil. Seseorang yang berbuat sesuatu dan ternyata membawa akibat melanggar norma atau aturan yang berlaku, tidak diberi sanksi atau hukuman. Dampak teknik permisif ini berupa kebingungan dan kebimbangan. Penyebabnya karena tidak tahu mana yang tidak dilarang dan mana yang dilarang bahkan menjadi takut, cemas dan dapat juga menjadi agresif serta liar tanpa kendali.  
c.       Disiplin Demokratis
Teknik disiplin demokratis berusaha mengembangkan disiplin yang muncul atas kesadaran diri sehingga siswa memiliki disiplin diri yang kuat dan mantap. Oleh karena itu bagi yang berhasil mematuhi dan mentaati disiplin, kepadanya diberi pujian dan penghargaan.
Dalam disiplin demokratis, kemandirian dan tanggung jawab dapat berkembang. Siswa patuh dan taat karena didasari kesadaran dirinya. Mengikuti peratuiran-peraturan yang ada bukan karena terpaksa, melainkan karena kesadaran bahwa hal itu baik dan ada manfaat.
Disiplin berperan penting dalam membentuk individu yang berciri keunggulan. Berdasarkan pengalaman penulis, disiplin penting karena alasan sebagai berikut:
1)      Dengan disiplin yang muncul karena kesadaran diri, siswa berhasil dalam belajarnya, sebaiknya siswa yang kerap kali melanggar ketentuan sekolah pada umumnya terhambat optimalisasi potensi dan prestasinya.
2)      Tanpa disiplin yang baik suasana sekolah dan kelas menjadi kurang kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Secara positif disiplin memberi dukungan lingkungan yang tenang dan tertib bagi proses pembelajaran.
3)      Orang tua senantiasa berharap di sekolah anak-anak dibiasakan dengan norma-norma, nilai kehidupan dan disiplin. Dengan demikian, anak-anak dapat menjadi individu yang tertib teratur dan disiplin.
4)      Disiplin merupakan jalan bagi siswa untuk sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja kesadaran pentingnya norma, aturan, kepatuhan dan ketaatan merupakan prasyarat kesuksesan seseorang.

C.  Fungsi Disiplin

Disiplin sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap siswa. Disiplin menjadi prasyarat bagi pembentukan sikap, perilaku dan tata kehidupan berdisiplin yang akan mengantarkan seorang siswa sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja.
Beberapa fungsi disiplin antara lain sebagai berikut :
a.       Menata Kehidupan Bersama
Manusia adalah makhluk unik yang memiliki ciri, sifat, kepribadian, latar belakang dan pola pikir yang berbeda-beda selain sebagai satu individu juga sebagai makhluk sosial, selalu terkait dan berhubungan dengan  orang lain.
Fungsi disiplin adalah mengatur tata kehidupan manusia dalam kelompok tertentu atau dalam masyarakat. Dengan begitu, hubungan antara individu satu dengan yang lain menjadi baik dan lancar.
b.      Membangun Kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan sifat, tingkah laku dan pola hidup seseorang yang tercermin dalam penampilan, perkataan dan perbuatan sehari-hari. Pertumbuhan kepribadian seseorang biasanya di pengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah. Jadi lingkungan yang berdisiplin baik, sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Apabila seorang siswa yang sedang tumbuh kepribadiannya tentu lingkungan sekolah yang tertib, teratur, tenang, tenteram, sangat berperan dalam membangun kepribadian yang baik.
c.       Melatih Kepribadian
Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin tidak terbentuk serta merta dalam waktu singkat. Namun terbentuk melalui satu proses yang membutuhkan waktu panjang. Salah satu proses untuk membentuk kepribadian tersebut dilakukan melalui latihan.
d.      Pemaksaan
Disiplin dapat berfungsi sebagai pemaksaan kepada seseorang untuk mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku di lingkungan itu. Menurut Soegeng Prijodarminto (dalam Tulus Tu,u, 2004:41) mengatakan : disiplin yang terwujud karena adanya paksaan atau tekanan dari luar akan cepat pudar kembali bilamana faktor-faktor luar tersebut lenyap.
e.       Hukuman

Menurut Irene Marx (dalam Tulus Tu,u, 2004:42) mengatakan hukuman memang mengandung empat fungsi yakni :
1.   Sebagai pembalasan atas perbuatan salah yang telah dilakukan.
2.Sebagai pencegahan dan adanya rasa takut orang melakukan pelanggaran.
3.Sebagai koreksi terhadap perbuatan yang salah. 4.Sebagai pendidikan yakni menyadarkan orang untuk meninggalkan perbuatan tidak baik lalu mulai melakukan yang baik.

D. Upaya Penegakan  Disiplin

Disiplin individu menjadi prasyarat terbentuknya kepribadian yang unggul dan sukses. Disiplin sekolah menjadi prasyarat terbentuknya lingkungan pendidikan yang kondusif bagi kegiatan dan proses pendidikan.
Dalam Upaya Penegakan disiplin ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut :
a.       Adanya tata tertib dalam mendisiplinkan siswa, tata tertib sangat bermanfaat untuk membiasakannya dengan standar perilaku yang sama akan di terima oleh individu lain di ruang lingkupnya.
b.      Konsisten dan konsekuen. Masalah umum yang muncul dalam disiplin adalah tidak konsistennya penerapan disiplin ada perbedaan antara tata tertib yang tertulis dengan pelaksanaan di lapangan. Dalam sanksi atau hukuman ada perbedaan antara pelanggar satu dengan yang lain. Menurut Soegeng (dalam Tulus Tu,u, 2004:56) mengatakan : dalam menegakkan disiplin bukanlah ancaman atau kekerasan yang diutamakan, yang diperlukan adalah ketegasan dan keteguhan di dalam melaksanakan peraturan. Hal itu merupakan modal utama dan syarat mutlak untuk mewujudkan disiplin.
c.       Hukuman. Hukuman bertujuan mencegah tindakan yang tidak baik dan tidak diinginkan. Tujuan hukuman menurut Hadi Subrata (dalam Tulus Tu,u, 2004:56) untuk mendidik dan menyadarkan siswa bahwa perbuatan yang salah mempunyai akibat yang tidak menyenangkan. Hukuman diperlukan juga untuk mengendalikan perilaku disiplin. Tetapi hukuman bukan satu-satunya cara untuk mendisiplinkan anak atau siswa.
d.      Kemitraan dengan orang tua, pembentukan individu berdisiplin dan penanggulangan masalah-masalah disiplin tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga tergantung orang tua atau keluarga. Keluarga atau orang tua merupakan pendidik pertama dan utama yang sangat besar pengaruhnya dalam pembinaan dan pengembangan perilaku siswa. Karena itu, sekolah sangat perlu bekerjasama dengan orang tua dalam penanggulangan masalah disiplin.
Partisipasi orang tua yang dapat di berikan dalam membantu sekolah Menurut Maman Rachman (dalam Tulus Tu,u, 2004:57) dapat dirangkum antara lain memotivasi siswa belajar dengan baik, rajin belajar, ikut membantu tegaknya disiplin sekolah, ikut mendorong putra-putrinya memenuhi tata tertib sekolah, membantu tegaknya wibawa kepala sekolah dan guru-guru, membantu memelihara nama baik sekolah, mendorong putra-putrinya memelihara K-5 sekolah (keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan).
Disiplin individu yang baik menunjang peningkatan prestasi belajar dan perkembangan perilaku yang positif. Langkah represif sudah berurusan dengan siswa yang telah melanggar tata tertib sekolah. Upaya tersebut merupakan langkah pemulihan memperbaiki, meluruskan, menyembuhkan perilaku yang salah dan tidak baik.
Langkah-langkahnya sebagai berikut :
1.      Preventif
Langkah preventif merupakan langkah-langkah yang diambil untuk mencegah siswa yang berbuat hal-hal yang dikategorikan melanggar tata tertib sekolah secara positif langkah ini untuk mendorong siswa mengembangkan ketaatan dan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah.
a.       Menjelaskan kepada orang tua dan siswa mengenai tata tertib sekolah berupa tuntutan dan sanksi.
b.      Meminta dukungan orang tua dan siswa untuk berkomitmen mematuhi dan mentaati tata tertib sekolah.
c.       Memanfaatkan kesempatan upacara bendera untuk memberi pengarahan berkenaan pengembangan dan pemantapan K-5 (keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, kekeluargaan).
d.      Meyakinkan siswa bahwa disiplin individu sangat penting bagi keberhasilan sekolah dan pengembangan kepribadian yang baik.
e.       Membentuk kegiatan ekstrakurikuler agar banyak waktu siswa dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif.
f.       Secara berkala mengadakan razia terhadap barang yang dipakai, di bawa siswa ke sekolah.
g.      Mengadakan pendekatan personal terhadap siswa-siswa yang diamati berpotensi, bermasalah dalam disiplin.
h.      Kepala sekolah dan guru-guru memberi teladan yang baik tentang perilaku disiplin dalam ketaatan dan kepatuhan.
i.        Menerapkan disiplin sekolah secara konsisten dan konsekuen.
j.        Memberi penghargaan kepada siswa yang berprestasi di sekolah dan di luar sekolah.
k.      Meminta siswa menjaga nama baik sekolah terutama di dalam dan di luar sekolah.
2.      Reprensif
Langkah reprensif merupakan langkah yang diambil untuk menahan perilaku melanggar disiplin sesering mungkin atau untuk menghalangi pelanggaran yang lebih berat lagi. Atau langkah menindak dan menghukum siswa yang melanggar disiplin sekolah.
Langkah reprensif ini diberikan untuk siswa yang melanggar disiplin sekolah.
Tindakan yang diberikan dapat berupa :
1.   Nasehat dan teguran lisan. 2.Teguran tertulis. 3.Hukuman disiplin ringan, sedang atau berat.
Sanksi disiplin yang diberikan harus manusiawi dan memperhatikan martabat siswa. Sanksi tidak dapat dilakukan dengan semena-mena sesuai selera. Namun perlu dilakukan sesuai dengan standar dan aturan yang berlaku. Sanksi perlu adil sesuai dengan kesalahan yang bertujuan untuk mendidik. Jangan sampai siswa merasa diperlakukan secara tidal manusiawi oleh yang memberikan hukuman.
Saat guru atau orang tua berhadapan dengan siswa atau anak yang melanggar peraturan yang sudah dibuat dan diketahui kerap kali terbawa dalam sikap yang sangat emosional. Apalagi bila pelanggaran itu terjadi berulang-ulang oleh siswa yang sama. Kadang-kadang muncul kata-kata yang kurang baik dan bijak. Bahkan kadang muncul perbuatan dan tindakan yang kurang terpuji. Hukuman yang diberikan menjadi tidak logis terbawa oleh emosi. Sebab itu, bila ada yang melanggar aturan sebaiknya dihadapi dengan hati dan kepala yang dingin, tidak panas. Lalu juga memperhatikan prinsip-prinsip pemberian hukuman yang sesuai dengan kaidah-kaidah pendidikan. Agar hukuman itu lebih memberi dampak positif.
Berhubungan dengan hukuman tersebut, kita perlu memperhatikan prinsip-prinsip dalam pemberian hukuman. Menurut Maman Rachman (dalam Tulus Tu,u, 2004:60) prinsip-prinsipnya antara lain :
1.   Berikan alasan dan penjelasan mengapa hukuman diberikan.
2.   Hindari hukuman yang bersifat badaniah.
3.   Hindari penghukuman pada saat marah atau emosional.
4.   Jangan menghukum kelompok atau kelas apabila kesalahan dilakukan satu orang.
5.   Jangan memberi tugas tambahan sebagai hukuman.
6.   Yakinilah bahwa hukuman sesuai dengan kesalahan.
7.   Jangan menggunakan standar hukuman ganda.
8    .Jangan benci dan dendam.
9.   Konsisten dan konsekuen dengan hukuman.
10. Jangan mengancam sesuatu yang mustahil.
11. Jangan menghukum sesuai selera.
Penerapan peraturan sekolah dan sanksi terhadap siswa yang melanggar peraturan sekolah harus dilakukan secara konsisten dan konsekuen. Artinya tidak berubah-ubah sesuai keadaan dan selera. Bertindak semena-mena dan sewenang-wenang akan tetapi tindakan yang diambil harus sesuai dengan apa yang dikatakan dan disusun dalam peraturan yang berlaku. Menurut Harris Clemes dan Reynold Bean (dalam Tulus Tu,u, 2004:61) pentingnya sikap konsisten disebabkan sebagai berikut :
1.   Sikap konsisten menunjukkan penerapan disiplin tidaklah main-main. Berlaku sesuai ucapan atau aturan yang ada.
2.   Penerapan aturan dan hukuman yang konsisten sangat besar pengaruhnya pada anak dibanding kebimbangan dan hukuman yang kejam.
3.   Sikap konsisten akan menolong dan membuat anak merasa terlindungi.
4.   Penerapan disiplin yang konsisten akan menghasilkan ketertiban yang baik.
5.   Sikap tidak konsisten akan mengkhawatirkan anak-anak sebab mereka tidak tahu tindakan apa yang akan diberikan bagi yang melanggar.
6.   Sikap tidak konsisten dapat menimbulkan perlawanan dan kemarahan anak.
3.      Kuratif
Langkah ini merupakan upaya memulihkan, memperbaiki, meluruskan atau menyembuhkan kesalahan-kesalahan dan perilaku-perilaku salah yang bertentangan dengan disiplin sekolah. Siswa yang telah melanggar ketentuan sekolah dan telah diberi sanksi. Disiplin perlu dibina dan dibimbing oleh guru-guru.

Jadi dalam penanggulangan disiplin ini diperlukan adanya tata tertib sekolah, konsistensi dan menerapkan disiplin sekolah dan kemitraan dengan orang tua. Tindakan penanggulangan dapat di lakukan melalui langkah prevensif, represif dan kuratif. Sanksi yang diberikan tidak boleh dilakukan secara emosional dan sesuai selera, tetapi harus mengacu pada standar dan aturan yang ada serta bertujuan mendidik. Dengan hal-hal tersebut disiplin di sekolah dapat ditegakkan dan dipulihkan. Siswa yang bermasalah dengan perilaku yang kurang baik dapat di tolong dan dipulihkan. Diharapkan dengan langkah dan sikap seperti itu akan memberi dampak besar bagi kondisi  kondusif sehingga tercipta hasil belajar yang baik dan perubahan perilaku siswa yang lebih positif.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan

Dalam bahasa latinnya tertulis discipline yang menunjuk kepada kegiatan belajar dan mengajar yang berarti mengikuti orang untuk belajar di bawah pengawasan seorang pemimpin. Dalam kegiatan bawahan dilatih untuk patuh dan taat pada peraturan-peraturan yang di buat oleh pemimpin.

 

Upaya Penegakan  Disiplin

Disiplin individu menjadi prasyarat terbentuknya kepribadian yang unggul dan sukses. Disiplin sekolah menjadi prasyarat terbentuknya lingkungan pendidikan yang kondusif bagi kegiatan dan proses pendidikan.
Dalam Upaya Penegakan  disiplin ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut :
a.         Adanya tata tertib dalam mendisiplinkan siswa, tata tertib sangat bermanfaat untuk membiasakannya dengan standar perilaku yang sama akan di terima oleh individu lain di ruang lingkupnya.
b.        Konsisten dan konsekuen. Masalah umum yang muncul dalam disiplin adalah tidak konsistennya penerapan disiplin ada perbedaan antara tata tertib yang tertulis dengan pelaksanaan di lapangan. Dalam sanksi atau hukuman ada perbedaan antara pelanggar satu dengan yang lain.
c.       Hukuman. Hukuman bertujuan mencegah tindakan yang tidak baik dan tidak diinginkan.
d.      Kemitraan dengan orang tua, pembentukan individu berdisiplin dan penanggulangan masalah-masalah disiplin tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah

 

B. Saran-saran

Walaupun penulis dalam taraf  belajar, namun bila diperkenankan ada baiknya juga untuk memberikan saran-saran sebagai berikut:
1.    Perlu adanya kedisiplinan yang tinggi pada setiap individu untuk daya guna dan berhasil guna.
2.    Guru sebagai panutan anak didiknya oleh sebab itu disiplin merupakan bagian terpenting dari tugas-tugas kependidikan dalam kegiatan belajar mengajar. 
3.    Agar disiplin belajar dapat tercapai secara optimal guru perlu mendisiplinkan diri sendiri.
4.    Peranan orang tua sangat berguna untuk meningkatkan prestasi belajar anak.

 

DAFTAR PUSTAKA



·      Dimyati, Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT Rineka Cipta.

·      Djamarah, Aswan Zaini. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Rineka Cipta.

·      Ronald. 2006. Peran Orang tua dalam Meningkatkan Kualitas Hidup, Mendidik dan
§  Mengembangkan Moral Anak. Bandung : Yrama Widya.

·      Sardiman. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Raja
§  Grafindo Persada.

·      Slameto. 2003.  Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT
§  Rineka Cipta.

·      Sri Esti Wuryani Djwandono. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grafindo.

·      Sudjana. 2005. Strategi Pembelajaran. Bandung : Fatah Production.

·      Muhibbin Syah. 2006. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung :
·      PT Remaja Rosda Karya.

·      Tulus Tu,u. 2004. Peranan Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta :
§  Grafindo.

Loading...


EmoticonEmoticon